Sebuah Catatan Dari Tanah Moronene Sulawesi Tenggara,Tentang Perjuangan Masyarakat Togutil Halmahera Timur

Tampak Suasana Upacara Adat Suku di Halmahera Timur (Foto Istimewa)

Oleh: Anton Ferdinan, Sekretaris PD AMAN Bombana

SULTRA, MNN.COM — Hari ini, 10 November 2022 dari Sabang sampai Merauke segenap warga Negara RI sedang bersukacita memperingati Hari Pahlawan ke- 77 tahun 2022. 

Bacaan Lainnya

Kita patut bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena masih dapat menghirup udara segar dan hidup dalam suasana yang nyaman dan tentram diatas pijakan tanah leluhur kita. 

Namun dari pelosok negeri di timur tepatnya di Halmahera saudara kita  Togutil (Tobelo Boeng Heleworuru) mereka sedang berjuang mempertahankan setiap jengkal tanah leluhurnya untuk bisa bertahan hidup dan layak atas ulayat secara turun temurun.

Baca Juga:  Bupati Kolaka Serahkan Bantuan Permodalan Bagi Para Pelaku Koprasi

 Eksploitasi lahan yang akan dijadikan sebagai areal pertambangan oleh sejumlah investor membuat saudara-saudara kita di Togutil terusik untuk tetap mempertahankan tanah dan airnya sebagai sumber penghidupan mereka secara turun temurun yang telah dihuni  sejak ratusan tahun silam. 

Dituturkan salah satu pengurus Wilayah PW AMAN di Provinsi Maluku   dan sedikit informasi yang diberikan oleh anggota PW AMAN dari Halmahera  Timur Novenia Ambeua bahwa warga masyarkat adat Togutil sedang bertaruh sekuat tenaga untuk tetap bertahan diatas tanah leluhur nya. 

Kondisi yang dihadapi masyarakat adat Togutil di Halmahera Timur Kecamatan Wasile Selatan mengingatkan kami peristiwa yang dialami masyarakat Adat Moronene di Sulawesi Tenggara 25 tahun silam tepatnya tahun 1997. 

Baca Juga:  Korem 134/HO Beri Vaksinasi Kepada Atlet Sepak Takraw Sultra Dalam Dukungan Penuh Prestsai Pada PON 2021

Stigma yang dialamatkan kepada masyarakat Togutil, telah membuat mereka seolah terasing dari tanah leluhurnya dengan dicap sebagai perusak hutan dan alam dikampungnya. Mengutip sebait kalimat  untuk Yanes Balubun Salam dari Kampung-Kampung “Kau bilang orang Togutil harus bebas merambah rimba Halmahera tanpa takut pada polisi dan tantara, apalagi investor tipu daya dari utara, selatan sampai barat daya” (Gaung Ama, 2016:36).

Sebagai bentuk solidaritas kami dari Moronene sesama masyarakat adat, hanya mengirimkan doa dan memohon petunjuk serta ridho Allah Subhanahu Wataala agar saudara-sudara kami di Togutil senantiasa dalam lindungan Allah Yang Maha Kuasa. Salam Perjuangan, Tabea ruapulu tabea, Suba Jo. (Red)

Pos terkait