Hilangnya Budaya Literasi Di Era Milenial

Oleh : Andi Ulfa Wulandari

MATANETNEWS.COM_MAKASSAR – Andi Ulfa Wulandari, adalah Mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang adalah anak dari salah seorang Kepala Sekolah di Kecamatan Toari Kabupaten Kolaka Sultra, dalam tulisannya yang bertemakan,

“Rumah Adalah Madrasah Pertama Dan Utama,” sebagai berikut ;
Rumah adalah tempat terbaik untuk membina dan berkarya, yang sejatinya adalah tempat menilik masa depan anak bangsa di mulai dari keluarga dengan menciptakan suasana kondusif dalam rumah tangga, yang harus memerlukan ilmu,skill, serta tindakan; sebab di era Milenial seperti sekarang kecanggihan teknologi tak jarang menjadi candu dalam dunia edukasi baik itu secara formal di Sekolah-Sekolah maupun non-formal khususnya terjadi di rumah, sehingga penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat memberikan efek negatif yang cukup besar dalam tumbuh kembang anak mempengaruhi perkembangan otaknya, bahkan tak jarang wabah gadget ini dapat merusak keharmonisan rumah tangga seperti misalnya terciptanya jarak antara suami dan istri atau juga terjadinya kerenggangan antara orang tua dan anak padahal masih dalam satu atap.

“Pada era digital harusnya menyadarkan kita tentang pentingnya menghidupkan budaya literasi yang tentunya dapat dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga,” kata Wulan (red).

Harapan penulis, bahwa sebaiknya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sebaiknya dimanfaatkan untuk menambah wawasan, mengais ilmu sebanyak-banyaknya serta mengasah kreatifitas dalam berkarya, dan bukan malah sebaliknya dengan menjadikan kita sebagai budak teknologi(Budget). maka dari itu, butuh kesadaran  kita sendirilah yang pandai me-manage waktu dan menjadikan kemajuan teknologi sebagai alat bantu untuk menggali berbagai potensi, karena sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan Agamanya serta lingkungannya.

Baca Juga:  Forum Wartawan Lebak, Kecam Tindakan Aleg Intimidasi Peliputan

Dikatakanya(penulis red)  , jika kita melirik ada suatu budaya yang hilang di era Milenial dari pesatnya kemajuan ilmu teknologi yaitu budaya membaca dan menulis, jika kita menengok ke-belakang dalam beberapa dekade, dimana masa itu kita semua tahu para Bapak-bapak setiap paginya menunggu datangnya surat Khabar, kita juga dapat menyaksikan anak-anak muda membaca buku sastra bergenre novel atau kumpulan puisi oleh sastrawan Nusantara, dan kita juga mendapati para anak gadis yang bergumul dengan pena dan buku diary yang kerap kali dibawanya kemana pun pergi, kesemuanya itu adalah fenomena yang sulit kita temui hari ini karena media sosial (Medsos) telah menjadi fashion dan juga habbit yang rasanya ingin dikunjungi setiap waktu.

Maka dari itu untuk menumbuhkan budaya literasi dalam keluarga, beberapa hal berikut perlu kita tiru dan contohi:

Pertama,” Peran orang tua sebagai Guru dan Kepala Sekolah dalam rumah tangga sangatlah diperlukan, maksud dari pada itu bahwa sebisa mungkin orang tua harus memberikan contoh perilaku positif lebih dahulu, seperti misalnya orang tua harus meminimalisir penggunaan gadget di hadapan anak-anak, dan lebih seringlah ajak anak bermain sambil belajar dengan cara menurunkan buku-buku bergambar lalu mendongengkan mereka”.

Kedua,” Siapkan sarana dan prasarana pembelajaran dalam rumah, jadikanlah rumah sebagai madrasah dengan menyiapkan perpustakaan pribadi beserta alat peraga edukasi lainya, seperti papan tulis mini yang lengkap dengan alat tulisnya, serta poster-poster bernuansa edukasi pembelajaran untuk anak, misalkan poster perkalian,huruf Hijaiyah dan latin,poster motivasi, jika perlu hidupkan pembelajaran kosa kata asing dengan menempelkan kosa kata asing pada setiap benda yang dimaksud “.

Baca Juga:  Sosok Slamet Artadinata Bergabung Jadi LSM Lepindo Sultra

Ketiga,” Siapkan rak penyimpanan buku yang dirakit seunik mungkin guna merangsang otak dan mood anak, mengkoleksi buku-buku dikondisikan dengan kebutuhan keluarga, dan upayakan untuk mengajak keluarga berdiskusi seputar isi buku usai di baca, ceritakan riwayat pengarangnya , dan atau pesan moral dari buku tersebut”.

Keempat,” Kalaupun bisa usahakan sebulan sekali ajaklah keluarga berkunjung ke toko buku, biasakanlah ajak keluarga melihat buku apabila kepusat perbelanjaan serta sisihkanlah untuk membeli buku walau sebulan sekali, kalau pun mampu sisihkanlah untuk berlangganan surat khabar”.

Kelima,” Kurangilah curhat di Media sosial, seperti di wall Facebook, Instagram, atau WhatsApp sebab selain mengurangi jiwa literasi dalam diri kita, curhat di media sosial juga dapat mengurangi harga diri kita dihadapan para kawan-kawan dunia Maya secara tidak langsung, karena kita sendirilah yang menyebarkan privasi kepada publik, maka dari itu ada baiknya jika kita menulis isi hati di atas kertas atau mengetiknnya di Microsoft word hingga membentuknya menjadi sebuah karya tulis, selanjutnya kirimkan lah ke Media Massa yang memiliki visi -misi yang sama dengan tulisan kita, karena selain dapat mengasah potensi serta prestasi , nantinya juga bermanfaat bagi orang banyak hingga memunculkan nilai reputasi kita, bahkan dari tulisan itu bisa memperoleh rezeki yang halal”.

Keenam,” Usahakanlah jangan kita biasakan memberi Gadget pada anak di bawah umur , karena usia di bawah umur belum pantas menggunakan gadget sebagai sarana bermain, nantilah di berikan jika waktu sudah tepat seperti Anak pelajar SMA, atau Mahasiswa yang kebanyakan aktivitasnya memerlukan peran Gadget, namun haruslah peran orang tua sedapat mungkin mengontrol penggunaannya”.

Andi Ulfa Wulandari
Redaksi. 

Pos terkait